Mengenal Teori Semiotika Menurut Tiga Ahli

Semua orang pasti pernah mendengar istilah “semiotika”, tapi apa sih sebenarnya semiotika itu? Secara sederhana, semiotika adalah studi tentang tanda dan simbol serta bagaimana tanda-tanda tersebut digunakan untuk menyampaikan makna. Ada tiga tokoh utama dalam dunia semiotika yang sering dibahas, yaitu Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, dan John Fiske. Yuk, kita bedah perbedaan teori semiotika dari ketiga ahli ini dengan bahasa yang lebih santai dan mudah dipahami!

 

1. Ferdinand de Saussure: Bapak Semiotika Modern

Ferdinand de Saussure adalah seorang ahli linguistik asal Swiss yang sering disebut sebagai bapak semiotika modern. Teorinya menekankan pada hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk fisik dari sebuah tanda (seperti kata, gambar, atau suara), sementara petanda adalah konsep atau makna yang diwakili oleh penanda tersebut.

Saussure memperkenalkan konsep dyadic atau dua komponen dalam tanda. Ia menekankan bahwa hubungan antara penanda dan petanda bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan alami antara kata dan objek yang diwakilinya. Misalnya, kata “kucing” tidak memiliki hubungan alamiah dengan hewan berbulu yang kita kenal sebagai kucing, itu hanya kesepakatan sosial.

 

2. Roland Barthes: Semiotika Budaya

Roland Barthes, seorang kritikus sastra dan semiolog asal Prancis, memperluas konsep semiotika Saussure ke dalam analisis budaya. Barthes mengembangkan ide tentang mitos dalam kebudayaan. Mitos, menurut Barthes, adalah cara ideologi dan makna-makna tertentu dihasilkan dan dipertahankan dalam masyarakat.

Barthes membedakan antara denotasi (makna literal) dan konotasi (makna tambahan yang lebih dalam dan kompleks). Contohnya, foto bendera bisa saja memiliki makna denotatif sebagai selembar kain berwarna, tetapi secara konotatif, ia dapat melambangkan patriotisme, nasionalisme, atau bahkan kekuasaan negara.

 

3. John Fiske: Semiotika dan Media

John Fiske, seorang akademisi asal Inggris, lebih banyak fokus pada semiotika dalam konteks media dan komunikasi. Fiske melihat tanda-tanda sebagai produk dari praktik sosial dan budaya. Ia mengemukakan bahwa tanda-tanda dalam media massa memiliki makna yang bisa berbeda-beda tergantung pada audiens dan konteks sosialnya.

Fiske memperkenalkan konsep kode dalam semiotika, yaitu sistem tanda yang digunakan untuk menyampaikan pesan dalam media. Ia menekankan bahwa audiens bukanlah penerima pasif, melainkan aktif dalam menginterpretasikan dan memberi makna pada tanda-tanda tersebut. Misalnya, sebuah iklan di TV bisa dimaknai berbeda oleh orang yang berlatar belakang budaya berbeda.

 

Meski ketiga tokoh ini sama-sama membahas tentang tanda dan makna, pendekatan mereka cukup berbeda. Saussure lebih fokus pada struktur dasar tanda, Barthes memperluasnya ke dalam konteks budaya dan ideologi, sedangkan Fiske mengaplikasikannya pada media dan komunikasi massa. Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa lebih menghargai kompleksitas dan kedalaman studi semiotika serta bagaimana tanda-tanda mempengaruhi cara kita melihat dunia.

 

Penulis : Amalia Zahara

Editor : Sakinatudh Dhuhuriyah

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *