Gangguan Mental Tanda Kurang Ibadah?

Bukan lagi hal tabu, kesehatan mental menjadi isu yang sangat penting untuk kita perhatikan di masa sekarang. Akibat pandemi Covid-19 lalu bahkan hingga kini berbagai kalangan mulai lebih memperhatikan bagaimana pentingnya merawat kesehatan mental. Sehingga kini banyak orang terutama kaum muda yang sudah tergerak untuk berkonsultasi ke psikolog atau psikiater tanpa harus merasa malu dengan lingkungan sosialnya. Kesehatan mental itu penting karena hal tersebut juga berkaitan dengan fisik kita. Seperti sebuah ungkapan “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat,” ketika orang memiliki fisik yang sehat dan bugar bisa dipastikan kesehatan jiwanya juga baik karena itu dapat memengaruhi produktivitasnya sehari-hari.

Namun, tak jarang hingga saat ini masih banyak juga stigma-stigma negatif tentang kesehatan mental salah satunya ialah bahwa, “Orang yang memiliki gangguan mental seperti depresi adalah orang yang kurang iman.” Biasanya yang mengatakan hal ini merupakan golongan Baby Boomers atau golongan orang tua. Hal tersebut salah besar, pada umumnya orang yang berpikir seperti itu ialah seorang yang belum pernah mengalami depresi atau seseorang yang fanatik akan suatu agama serta memiliki pemikiran yang kurang terbuka.

Mengutip kata Rena dalam Halo Talks pada Rabu 13 November: “Religiusitas memang betul memengaruhi perasaan nyaman, perasaan tenang tapi penyebabnya bukan hanya itu. Tapi, ada tekanan-tekanan tertentu di mana tekanannya itu lebih berat dibandingkan kapasitas kita untuk menghadapi tekanan itu. Sehingga akhirnya muncul tekanan, depresi dan lainnya. Jadi itu yang masih banyak dan sering muncul di masyarakat,”

Faktor Penyebab Gangguan Mental

· Faktor biologis antara lain adalah keturunan/genetik, masa dalam kandungan, proses persalinan, nutrisi, riwayat trauma kepala dan adanya gangguan anatomi dan fisiologi saraf.

· Faktor psikologis yang berperan terhadap timbulnya gangguan jiwa antara lain adalah interaksi dengan orang lain, intelegensia, konsep diri, keterampilan, kreativitas, dan tingkat perkembangan emosional.

· Faktor sosial yang berpengaruh yaitu stabilitas keluarga, pola asuh orang tua, adat dan budaya, agama, tingkat ekonomi, nilai dan kepercayaan tertentu.

Hubungan Iman dengan Kesehatan Mental

Orang yang kurang iman belum tentu memiliki gangguan mental, begitu juga sebaliknya. Tidak ada hubungan gangguan mental dengan agama. Namun, terdapat hubungan antara agama dan kesehatan mental. Banyak bukti yang menyatakan bahwa keyakinan seseorang dapat menjadi pegangan dan membantu orang tersebut optimis dalam menjalani hidupnya, serta membantu untuk mengatasi berbagai macam depresi.

Ada banyak peran agama untuk kesehatan mental, diantaranya yaitu:

· Agama dapat menjadi pegangan kita untuk hidup lebih optimis dan membuat kita memiliki pengharapan dan tujuan dalam hidup. Dalam ajaran agama manapun, pasti terdapat sebuah ajaran hidup di baliknya. Di mana kita harus yakin akan Tuhan sebagai sang pencipta dunia ini dan menjalankan seluruh perintahnya untuk mendapatkan berkat dan karunia Tuhan dalam hidup kita. Dalam berbagai agama juga mengajarkan tentang pentingnya arti hidup yang telah Tuhan berikan kepada kita.

· Hampir semua agama di muka bumi ini, menganjurkan kita untuk menghindari berbagai hal negatif yang menjadi sumber stress dan juga penyakit, seperti dilarang untuk mabuk, berzinah, mencuri, dll. Dalam kitab, ajaran, serta ritual yang dimiliki setiap keyakinan dapat digunakan sebagai panduan untuk menghindari hal-hal buruk tersebut. Dalam meminimalisir masalah hidup, kita dapat hidup dengan tenang dan bahagia.

· Banyak orang berkumpul karena percaya pada ajaran suatu keyakinan tertentu. Hal ini dapat menciptakan rasa kebersamaan dengan cara saling mendukung. Mengetahui bahwa kita tidak sendiri dan ada orang lain di sekitar kita, akan membuat diri kita merasa tenang dan perlahan juga dapat mengobati depresi dalam diri kita. Selain itu, dengan kita mengikuti serangkaian kegiatan keagamaan seperti ritual, berdoa, bermeditasi dan bentuk lain dari relaksasi tubuh, dapat membuat kita jauh lebih tenang dan mengurangi efek stress pada fisik.

Peran agama memang penting dalam mengurangi stress dan meningkatkan kesehatan mental kita. Namun, tidak dibenarkan juga bahwa orang yang memiliki gangguan kejiwaan baik ringan maupun yang berat ialah seseorang yang kurang iman. Pola pikir seperti itu harus segera kita betulkan. Karena, Jika penyakit jiwa tidak segera ditangani oleh tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater, hal itu akan berdampak buruk baik pada kesehatan fisik kita maupun pada sisi psikologis kita. Bahkan di masa sekarang, masih banyak kasus bunuh diri dikarenakan faktor depresi atau gangguan psikologis lainnya yang tidak ditangani dengan baik. Karena itu, kita harus mengubah pola pikir masyarakat dan melawan stigma-stigma negatif tentang kesehatan mental. Untuk mengurangi dan menghilangkan stigma masyarakat terhadap masalah kesehatan mental diperlukan adanya keseimbangan antara edukasi, sosialisasi, dan peningkatan fasilitas kesehatan jiwa.

 

Penulis : Alvin Ferdiansyah

Editor : Sakinatudh Dhuhuriyah

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *