Delapan Program Kampus Merdeka yang Wajib Kamu Coba!

Pada tahun 2020 silam, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, membuat sebuah gebrakan baru dalam dunia pendidikan terutama di perguruan tinggi dalam sebuah program yang dinamakan Kampus Merdeka. Pada kebijakan tersebut menegaskan bahwa mahasiswa memiliki hak belajar tiga semester di luar program studi. Program ini merupakan sebuah amanah yang tercipta dari berbagai regulasi/landasan hukum perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan lulusan perguruan tinggi.

 

Program Kampus Merdeka memberikan tantangan dan kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan kapasitas, kreativitas, inovasi, kepribadian, kebutuhan mahasiswa dan pengembangan kemandirian dalam mencari dan menemukan pengetahuan melalui kenyataan dan dinamika di lapangan. Ketika program yang telah dirancang dapat diimplementasikan dengan baik, harapannya hard skills dan soft skills mahasiswa terbentuk dengan kuat.

 

Berdasarkan Permendikbud No. 3 Tahun 2020 Pasal 15 ayat 1 menyatakan bahwa bentuk kegiatan pembelajaran pada program ini dapat dilakukan di dalam program studi maupun di luar progam studi yang meliputi:

1.     Pertukaran Pelajar

Program pertukaran pelajar diselenggarakan dengan maksud untuk membentuk beberapa sikap mahasiswa yang dapat menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain; serta bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Saat ini pertukaran mahasiswa dengan full credit transfer sudah banyak berjalan dengan mitra Perguruan Tinggi di luar negeri, namun untuk di dalam negeri masih sangat sedikit sehingga melalui program ini diharapkan dapat mengoptimalisasi pengaplikasian pertukaran pelajar dalam negeri.

2.     Magang/Praktik Kerja

Pelaksanaan program magang oleh mahasiswa untuk mendapatkan mendapat pengalaman kerja di industri/dunia profesi nyata masih sangat kurang. Sementara magang yang berjangka pendek (kurang dari 6 bulan) sangat tidak cukup untuk memberikan pengalaman dan kompetensi industri bagi mahasiswa. Selama proses magang mahasiswa akan mendapatkan hardskills (keterampilan, analytical skills, complex problem solving), maupun soft skills (etika profesi/kerja, komunikasi, kerjasama).

3.     Asistensi Mengajar di Satuan Pendidikan

Kualitas pendidikan dasar dan menengah yang ada di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara lain yaitu peringkat ke 7 dari bawah (PISA 2018). Hal tersebut diakibatkan oleh jumlah satuan pendidikan di Indonesia sangat banyak dan beragam permasalahan baik dalan satuan pendidikan formal, non-formal maupun informal. Kegiatan asistensi mengajar dilakukan oleh mahasiswa di satuan pendidikan seperti sekolah dasar, menengah, maupun atas. Sekolah tempat praktek mengajar dapat berada di lokasi kota maupun di daerah terpencil.

 

4.     Penelitian/Riset

Merdeka belajar dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan penelitian di Lembaga riset/pusat studi bagi mahasiswa yang memiliki passion menjadi peneliti. Melalui program penelitian ini, mahasiswa dapat mengembangkan cara berpikir kritis mereka dan hal tersebut akan sangat dibutuhkan untuk pengembangan berbagai rumpun keilmuan di jenjang pendidikan tinggi. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa akan mengasah mahasiswa untuk lebih mendalami, memahami dan mampu melakukan metode riset secara lebih baik.

 

5.     Proyek Kemanusiaan

Indonesia yang berapa pada garis ekuator dunia menyebabkan sering terjadinya bencana alam, baik berupa tsunami, erupsi gunung berapi, gempa bumi dan sebagainya. Pelibatan mahasiswa dalam proyek-proyek kemanusiaan selama ini bersifat voluntary dan hanya berjangka pendek. Mahasiswa yang memiliki minat menjadi “food soldiers” dengan jiwa muda dan kompetensi ilmu pengetahuan dapat turut serta berperan penting dalam proyek-proyek kemanusiaan dan pembangunan lainnya baik di Indonesia maupun negara lainnya.

 

6.     Kegiatan Wirausaha

Berdasarkan survei Global Entrepreneurship Index (GEI) tahun 2018, tingkat wirausahawan Indonesia hanya mencapai 21% dari berbagai bidang pekerjaan lainnya atau peringkat ke 94 dari 137 negara yang disurvei. Sementara hasil riset dari IDN Research Institute di tahun 2019 menyatakan bahwa 69,1% dari millennial di Indonesia memiliki minat untuk beprofesi sebagai wirausahawan. Dari dua hasil riset diatas menunjukkan bahwa potensi wirausaha bagai generasi melienial belum dapat dioptimalisasi dengan baik.

7.     Studi/Proyek Independen

Selama ini banyak mahasiswa yang memiliki passion dalam menciptakan karya-karya besar yang dilombakan di tingkat internasional dengan berbagai inovatif yang dibawa. Idealnya, studi/proyek independen dijalankan untuk menjadi pelengkap dari kurikulum yang sudah diambil oleh mahasiswa. Perguruan tinggi atau fakultas juga dapat menjadikan studi independen tersebut sebagai pelengkap topik yang tidak tmasuk dalam jadwal perkuliahan namun masih tersedia dalam silabus program studi. Kegiatan proyek independent dapat dilakukan dalam bentuk kerja kelompok lintas disiplin keilmuan.

 

8.     Membangun Desa melalui Kuliah Kerja Nyata Tematik

Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) merupakan suatu bentuk pendidikan dengan cara memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk belajar dari kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan KKNT juga diharapkan dapat mengasah softskill mahasiswa dalam kemitraan, kerjasama tim lintas disiplin/keilmuan (lintas kompetensi) dan leadership mahasiswa dalam mengelola program pembangunan di wilayah perdesaan. Satuan Kredit Semester (sks) untuk KKNT setara dengan 20 – 40 SKS atau 6 – 12 bulan yang pelaksanaannya didasarkan pada beberapa model pembelajaran.

 

 

Nah bagaimana, apakah kamu tertarik untuk mengikuti salah satu dari Program Kampus Merdeka? Ambil kesempatanmu untuk ikut andil dalam program tersebut ya!

 

Sumber        : https://kampusmerdeka.kemendikbud.go.id

Jurnalis         : Alimah Nur Kasanah

Editor           : Aisyah Wahdania

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.